Uncategorized

MENGENALI DAN MENGATASI CEPHALGIA/NYERI KEPALA PADA USIA PRODUKTIF

Alek Gugi Gustaman, SKM

A. Latar Belakang

Sakit kepala (cephalgia) merupakan keliru satu alasan paling lazim bagi pasien untuk melacak pertolongan medis secara global. Diperkirakan hampir setengah dari populasi orang dewasa dulu mengalami sakit kepala setidaknya sekali didalam setahun terakhir. Gangguan sakit kepala, yang ditandai bersama dengan sakit kepala berulang, tentang bersama dengan beban rasa sakit spesial dan sosial, kecacatan, mutu hidup yang rusak, dan biaya keuangan. Klasifikasi sakit kepala didasarkan terhadap International Classification of Headache Disorders (ICHD-3) edisi ketiga beta th. 2013 sebagai masalah sakit kepala primer dan masalah sakit kepala sekunder. Gangguan sakit kepala primer juga migrain, sakit kepala style tegang (TTH), cephalalgia otonom trigeminal (TAC), dan masalah sakit kepala primer lainnya. Sakit kepala sekunder juga lesi area intrakranial (SOLs), infeksi terhadap sistem saraf pusat, lebih-lebih meningitis atau ensefalitis; perdarahan subaraknoid; dan hipertensi intrakranial idiopatik. The Global Burden of Disease Study 2010 (GBD2010) melaporkan TTH sebagai masalah paling lazim ke-2 di seluruh dunia dan migrain sebagai yang ketiga (Nayak, 2020).

Nyeri kepala yang berlangsung bisa menimbulkan dampak-dampak negatif bagi penduduk terkecuali tidak diatasi, yakni menurunkan mutu hidup, menurunkan kebolehan melakukan aktifitas dan tingkatkan beban sosial-ekonomi masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dikerjakan oleh Stovner3di Norwegia terhadap th. 2007 kandungan prevalensi nyeri kepala sebesar 46%. Data lain menurut World Health Organization (WHO) terhadap th. 2012, kurang lebih 90% populasi dewasa di dunia setidaknya dulu mengalami satu spaceman slot kali nyeri kepala didalam satu th. (Habel, 2018).

Nyeri kepala merupakan suatu penyakit yang benar-benar lazim berlangsung di Indonesia apalagi di dunia. Menurut WHO (2012), kurang lebih 47% populasi dewasa di dunia setidaknya dulu mengalami satu kali nyeri kepala didalam satu tahun. Nyeri kepala juga merupakan keliru satu gejala yang paling sering dirasakan oleh penduduk didalam kehidupan sehari-hari, apalagi sampai waktu ini nyeri kepala masih menjadi kasus yang sering terjadi. Berdasarkan data prevalensi diketahui bahwa nyeri kepala tempati peringkat teratas bersama dengan kandungan sebanyak 42% dari seluruh keluhan pasien neurologi (WHO, 2012).

Data yang tersedia di dunia membuktikan terkecuali orang dewasa umur 18-65 th. mengeluh kepalanya sering nyeri dan th. 2015 terdapat tidak cukup lebih 30% pasien melapor migren dari umur populasi orang dewasa, supaya peringkat nyeri kepala dibilang tinggi. Gejala yang amat mungkin berlangsung di penduduk ialah nyeri kepala, dikarenakan sering ditemukan didalam kehidupan sehari- hari (Syarie et al., 2021). Prevalensi nyeri kepala masuk didalam kategori peringkat atas bersama dengan presentase 42% dari pasien neurologi yang dirawat di Indonesia (Candra et al., 2019).

Berdasarkan latar belakang tersebut, cephalgia terhadap umur produktif memerlukan perhatian dikarenakan menimbulkan pengaruh negatif dari bermacam macam segi didalam kehidupan sehari-hari. Oleh dikarenakan itu, diperlukan peran keluarga didalam menyadari gejala cephalgia supaya diperlukan edukasi kepada pasien dan keluarga supaya mereka bisa mobilisasi perannya bersama dengan maksimal.

B. Definisi Cephalgia

Nyeri kepala adalah sensasi tidak menyenangkan terhadap area kepala tepatnya terhadap anggota atas kepala yang memanjang dari orbita sampai ke area belakang kepala dan beberapa area tengkuk (Wijaya, A.A., Sugiharto, H. plus Zulkarnain, M., 2019).

C. Jenis Cephalgia

Dibagi menjadi 2 yakni sakit kepala primer dan sekunder. Sakit kepala primer tidak diketahui penyebabnya. Sakit kepala sekunder adalah akibat dari situasi lain yang membuat traksi atau peradangan terhadap struktur yang peka terhadap rasa sakit. Sakit kepala primer yang paling lazim juga migrain, sakit kepala style tension dan sakit kepala cluster. Sakit kepala yang terjalin bersama dengan infeksi, penyakit pembuluh darah, dan trauma adalah perumpamaan sakit kepala sekunder yang lebih umum. Hanya 1% pasien tumor otak yang mengalami sakit kepala sebagai satu-satunya keluhan (Rizzoli, P., & Mullally, W. J., 2018).

1. Primer

Nyeri kepala primer merupakan nyeri kepala akibat hubungan kompleks antara segi genetik dan lingkungan (Vania, A., 2020).

a. Migrain

Migren merupakan penyakit yang ditandai bersama dengan nyeri kepala primer, berbentuk berulang bersama dengan manifestasi serangan selama 4-72 jam. Karakteristik nyeri kepala unilateral, berdenyut, intensitas tengah atau berat, makin tambah berat bersama dengan aktivitas fisik yang teratur dan diikuti bersama dengan nausea dan ataufotofobia dan fonofobia (Elviana, S., 2020). Migrain adalah masalah paling lazim ketiga. Subtipe utamanya adalah migrain bersama dengan dan tanpa aura. Aura adalah serangkaian gejala sistem saraf yang sepenuhnya bisa dibalik, paling sering gejala visual atau sensorik, yang biasanya berkembang secara bertahap, surut dan kemudian diikuti bersama dengan sakit kepala disertai mual, muntah, fotofobia, dan fonofobia. Gejala biasanya berlangsung berturut-turut sedikitnya 5 menit atau lebih masing-masing bersama dengan kompleks gejala keseluruhan 5-60 menit (Rizzoli, P., & Mullally, W. J., 2018).

 

b. Tension headache

Nyeri kepala style tension/tegang adalah nyeri kepala bilateral yang berbentuk menekan (pressing), mengikat, tidak berdenyut, berbentuk mudah sampai sedang, tidak terbujuk oleh aktivitas fisik, tidak disertai mual atau muntah, serta disertai fotofobia atau fonofobia. Faktor-faktor yang diduga tentang bersama dengan perihal nyeri kepala style tegang diantaranya yakni usia, style kelamin, dan kecemasan. Nyeri kepala style tegang bisa menyerang segala usia, dimana umur rata-rata adalah 25-30 tahun. Jenis kelamin juga merupakan segi risiko terjadinya nyeri kepala style tegang dimana rasio perempuan:laki-laki adalah 5:4. Kecemasan merupakan keliru satu segi risiko terjadinya nyeri kepala. Penelitian Steven dkk, membuktikan bahwa nyeri kepala style tegang memiliki hubungan bersama dengan masalah mood dan kegalauan (Wjiaya, A.A., Sugiharto, H. plus Zulkarnain, M., 2019).

c. Cluster

Sakit kepala cluster adalah masalah sakit kepala primer dan merupakan yang paling lazim dari cephalalgia otonom trigeminal. Ini memengaruhi kurang lebih 1 dari 1000 populasi. Pasien melukiskan serangan sakit kepala cluster sebagai nyeri unilateral yang intens dan parah, biasanya di supraorbital, retro-orbital, area temporal dan timbul jauh di dalam. Telah dikatakan secara anekdot, dan baru-baru ini dipelajari, bahwa pasien menggambarkannya sebagai sakit kepala terburuk yang dulu mereka alami (Wei, D.Y., Khalil, M. plus Goadsby, P.J., 2019).

2. Sekunder

Nyeri kepala sekunder merupakan nyeri kepala sebagai gejala yang secara segera disebabkan oleh suatu penyakit dasar. Nyeri kepala sekunder bisa dijelaskan bersama dengan hubungan dikarenakan akibat, terkecuali penyebab berikut udah sembuh atau ditangani bersama dengan baik, nyeri kepala berikut diharapkan juga akan hilang (Vania, A., 2020). Sakit kepala akibat penyakit kejiwaan juga diakui sekunder (Rizzoli, P., & Mullally, W. J., 2018).

a. Sinus

Istilah sakit kepala sinus secara luas diberikan kepada individu bersama dengan nyeri muka (Maurya, A., Qureshi, S., Jadia, S. plus Maurya, M., 2019). Sakit kepala sinus adalah kasus lazim didalam praktek otorhinolaryngological. Episode nyeri atau tekanan di area sinus (yaitu, frontal, maksila, etmoid) atau di kurang lebih mata sering dilaporkan. Gejala yang dilaporkan oleh pasien bersama dengan sakit kepala sinus akibat sinusitis meliputi sumbatan hidung, hiposmia, dan sekret hidung purulen. Secara klinis, gejala penyakit bisa terlihat terhadap endoskopi, juga edema mukosa dan lebih-lebih mucopus (Kaymakç?, M., Gür, Ö.E. plus Pay, G., 2014).

b. Neuralgia trigeminal

Neuralgia trigeminal adalah keliru satu situasi neurologis yang paling menyakitkan dan sering dideskripsikan sebagai ‘petir’ yang melekat di muka atau sensasi menusuk di wajah. Memang, serangan rasa sakit yang berlangsung singkat layaknya itu berlangsung berkali-kali selama hari, melemahkan pasien (Shankar Kikkeri N, Nagalli S., 2022). Neuralgia trigeminal (TN), juga dikenal sebagai tic douloureux, adalah situasi nyeri gawat yang ditandai bersama dengan episode singkat berulang dari nyeri layaknya sengatan listrik yang memengaruhi saraf kranial (trigeminal) kelima, yang memperdarahi dahi, pipi, dan rahang bawah. Kondisi ini hampir senantiasa unilateral dan bisa melibatkan satu atau lebih cabang saraf trigeminal (Shankar Kikkeri N, Nagalli S., 2022).

D. Faktor Pemicu Cephalgia

Sakit kepala adalah keliru satu keluhan medis yang paling umum, bersama dengan prevalensi seumur hidup sebesar 46%. Sementara pasien yang mengalami migrain dan situasi mirip biasanya adalah orang dewasa muda dan paruh baya, sakit kepala yang baru terlihat juga terlihat terhadap populasi yang lebih tua. Sakit kepala primer bisa terlihat secara de novo terhadap populasi yang lebih tua, tapi indeks kecurigaan yang tinggi diperlukan untuk meyakinkan tidak tersedia penyebab sekunder yang berperan. Studi terhadap individu yang lebih tua udah mendapatkan tingkat sakit kepala bervariasi dari 8,8 sampai 24,4% bersama dengan banyak yang mewakili migrain atau sakit kepala style tegang; namun, sakit kepala sekunder yang dicatat juga yang tentang bersama dengan kasus pembuluh darah, struktur tengkorak, obat-obatan, dan hipoglikemia. Migrain sering berkembang selama hidup seseorang, tapi sakit kepala sekunder baru bisa terlihat sebagai pergantian fenomenologi sakit kepala di awalnya atau sebagai sakit kepala baru (Robblee & Sing., 2020).

Migrain dan style tension headache jarang berlangsung terhadap grup umur > 65 th. dan perlu menjadi diagnosis eksklusi. Pada individu yang lebih tua, migrain lebih cenderung berbentuk bilateral bersama dengan sensitivitas sensorik yang lebih rendah. Aura migrain bisa datang tanpa sakit kepala; penilaian hati-hati diperlukan untuk mengecualikan stroke. Sakit kepala primer lain yang dibahas juga batuk, hipnik, dan sakit kepala lainnya. Penyebab sekunder yang dibahas juga arteritis giant cell, neuropati pasca-herpes trigeminal, apnea tidur, cardiac cephalgia, nyeri cervicogenic, etiologi vaskular, obat-obatan, dan sindroma mulut terbakar (Robblee & Sing., 2020).

Anda mungkin juga suka...